Arsip Kategori: Persiapan Persalinan

Kontraksi Dini

Di usia kehamilan 33 minggu HPHT, dede utun mulai dorong-dorong keluar. Ilma kira itu kontraksi Braxton-Hicks alias kontraksi palsu. Tapi ko terus-terusan dan seharian ya?  Besok paginya sejak bangun tidur, kirain mau pup, eh tapi pas udah di toilet, lho ini mah rasanya mules di depan, dan keluar lendir terus, ga bisa dibersihin. Nah lho, ini kan tandanya mau lahiran seperti waktu mau ngelahirin Nada dulu.. Jadi A Krisna dan Nada langsung nemenin ilma periksa ke RSIA. Menurut jadwal praktek dsog yang ilma pegang, mestinya hari itu dsog ilma praktek.Eeeeh nyampe sana, ternyata jadwal praktek baru saja berubah, dan dsog ilma tidak praktek.

“Mau ke dokter S?”, tanya bagian pendaftarannya.

“Dokter S itu laki-laki atau perempuan ya?

“Laki-laki, Bu.”

“Ada dokter perempuan yang praktek sekarang tidak?”

“Iya ada, dokter L.”

“Iya deh, boleh. Jam berapa prakteknya?”

Beliau langsung menelpon mungkin ke perawatnya, menanyakan jadwal dokter L dan apa sang dokter sudah datang.

“Baru saja mulai. Silakan langsung ke pintu nomor x, ibu pasien nomor 1.”

Duh, alhamdulillah ada… tapi lagi-lagi ilma kebelet, jadi ke toilet dulu… eeh lendirnya masih keluar aja.. Keluar dari toilet, ternyata sudah dipanggil. Jadi langsung menuju perawatnya, mengukur tensi (rendah seperti biasa), berat badan (ternyata malah turun 2 kilo dari kontrol terakhir, jadi total naik baru 7 kg sejak awal kehamilan), dan ditanya apa keluhannya. Begitu ilma bilang abis kontraksi seharian dan keluar lendir terus, mimik wajah perawatnya langsung berubah jadi agak panik. Perawatnya langsung  minta ilma duduk dulu di dekat pintu x dan jalan cepat nyari dokternya yang ternyata sedang ke toilet juga, hehehe…

Dokter L muncul dan langsung tersenyum ramah, mempersilakan masuk dan memeriksa ilma dengan USG secara detail dan tenang. Beliau mengukur beberapa parameter seperti BPD (biparietal distance, jarak antara pelipis kiri dan kanan), FL (femur length, panjang tulang paha kalo ga salah), FTA (blm tau itu apa), dan AC (abdomen circumference, lingkar perut janin). Masing-masing disertai perkiraan G.A-nya (gestation age alias usia gestasi/usia janin). Dari BPD dan FL dapat diperkirakan berat badan janin (1,442 kg), dengan tingkat kesalahan sekitar 100 gram (menurut dokter L). Setiap parameter menghasilkan perkiraan usia gestasi yang berbeda-beda, tetapi menurut dokter, jika diambil rataannya, usianya kira-kira 31 minggu. Jenis kelamin diperiksa ulang (masih perempuan, hehe), denyut jantung janin normal, posisi kepala sudah di bawah, dan terlilit tali pusar satu kali. Tetapi lilitan ini bisa berubah karena sang janin masih bergerak-gerak aktif.

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan dalam untuk memeriksa lendir dan mengecek apakah ada air ketuban juga. Alhamdulillah hanya lendir penyumbat saja yang keluar, jadi belum terlalu berbahaya. Dokter menyarankan untuk segera bedrest, kalau bisa bahkan buang air kecil pun di pispot saja. Di usia ini, paru-paru janin belum bisa berfungsi dengan baik karena selaputnya belum terbentuk. Sangat riskan jika bayi lahir sekarang, jadi diresepkan obat penguat rahim (hystolan dosis 3 x 1 tablet) untuk menahan lahirnya bayi dan suplemen kalsium (osfit dosis 1 x 1 kaplet) untuk membantu pertumbuhan janin dan mencegah ibu kekurangan kalsium.

Sepulangnya dari RSIA, kami langsung pulang (tadinya mau memeriksakan eksim Nada juga ke dokter kulit tapi prakteknya masih lama dan ilma kurang sreg kalau Nada harus dipakaikan obat salep racikan itu lagi, karena khawatir pemakaian jangka panjang akan berefek negatif terhadap hatinya) dan ilma bedrest. Bedrest?? mana mungkiiiinnnn…. hahaha…. tapi ya diusahakanlah banyak istirahat aja..

Tadinya ilma ngga begitu ngeh tentang pentingnya bedrest dan kondisi kehamilan ilma sebenarnya, karena dokter L menjelaskan dengan begitu tenang. Sorenya, ilma mengirim sms kepada dsog ilma, dokter R, untuk menginformasikan keadaan ilma. Beliau berpendapat sama dengan dokter L dan menyarankan untuk tetap selalu membawa hystolan ke mana pun ilma berada karena kontraksi dapat terjadi lagi, tetapi ilma tidak menangkap kegentingan apapun dari beliau, jadi ilma santai aja. Yang ilma tangkap, ya usahakan jangan sampai kontaksi-kontraksi lama seperti sebelumnya saja, karena khawatir bayi akan lahir prematur. Tapi ilma belum sepenuhnya sadar apa resikonya jika terjadi kelahiran prematur.

Beberapa hari kemudian, ilma bercerita tentang ini ke grup ITB Motherhood, dan mendapatkan masukan-masukan berharga dari teman-teman di sana (terima kasih banyak kepada Rani Wardani Hakim, Annisa Ramdhaningtyas Slamet dan teman2 lainnya), yang membuat ilma googling lagi dan baru ngeh tentang pentingnya waspada, melakukan tindakan preventif, dan tetap tenang. Ilma baca doc dan googling lagi tentang tanda-tanda persalinan, perkembangan janin usia 8 bulan, teknik mengejan dengan benar, informasi mengenai bedrest saat hamil, hystolan, dll.

Kesimpulannya, kontraksi ilma kemaren2 itu bukan Braxton-Hicks melainkan kontraksi sungguhan, dan seandainya tidak langsung diperiksakan dan minum penguat rahim dan beristirahat, mungkin saja dede utun udah lahir dalam kondisi prematur, dengan paru-paru belum berfungsi, yang dapat berakibat kematian bayi akibat sianosis. Bedrest sendiri tidak terjamin dapat mencegah kelahiran prematur, tapi setidaknya dengan banyak mengurangi aktivitas dan banyak tiduran miring, aliran darah ke bayi bisa lebih baik, tekanan ke arah jalan lahir juga bisa dikurangi sehingga mungkin bayi akan lebih sulit keluar. Sayangnya, memang sulit ya untuk bisa bedrest, hehe… banyaknya ilma duduk aja, masih naik-turun tangga juga karena yaaa namanya juga udah punya anak. Nada seminggu ini tidak sekolah karena sedang ada penyebaran virus HMFD di sekolahnya. Untungnya ada Bi Tia yang kerja di rumah, jadi aktivitas ilma tetap bisa diminimalkan.

Benar saja apa kata dokter R dan teman-teman, kontraksi itu berulang lagi, jadi ilma minum hystolan lagi sambil berharap dede utun bersedia bekerjasama dan betah di dalam sampai cukup umur dan benar-benar siap untuk lahir.

Bacaan lebih lanjut:

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=76874:pentingnya-qbed-restq&catid=28&Itemid=48

http://seputarduniaanak.blogspot.com/2010/06/bed-rest-haruskah-selalu-berbaring.html

http://www.americanpregnancy.org/pregnancycomplications/bedrest.html –> yang ini lebih recommended

http://medicastore.com/obat/2729/HYSTOLAN.html

http://bidanku.com/index.php?/Perkembangan-Janin-Usia-8-Bulan

http://www.hypno-birthing.web.id/?p=117

http://hotmommies.wordpress.com/2009/11/23/waspada-berat-badan-janin-kurang/

http://www.drdidispog.com/2008/07/membaca-hasil-usg.html

Contoh Birth Plan

Walaupun secara teoritis dan perundang-undangan telah ada aturannya yang jelas, namun seringkali proses persalinan yang dilakukan di bidan atau rumah sakit tidak sesuai dengan apa yang telah kita baca selama ini, baik dari situs-situs kesehatan terpercaya (Depkes, WHO) maupun dari milis-milis kesehatan atau milis ibu dan anak.

Karena itu, ada baiknya kita mempersiapkan permintaan birth plan (rencana persalinan) tertulis yang disepakati oleh pihak calon orangtua dan penolong persalinan. Sebenarnya beberapa rumah sakit, baik di dalam maupun di luar negeri, telah menyediakan formulir persalinan yang lengkap, yang harus diisi jauh sebelum waktu melahirkan tiba (misalnya diberikan saat kontrol pertama trimester ketiga). Ini akan sangat membantu, karena pengisian formulir di saat sudah sedang mengalami kontraksi setiap 5 menit sekali akan sangat tidak kondusif dan pasien cenderung mengiyakan saja semua yang dikatakan pihak penolong, padahal pasien tidak mendengarkan sepatah kata pun (tidak menyetujui secara sadar dan bertanggungjawab).

Berikut adalah contoh permintaan rencana persalinan. Silakan tambahkan atau kurangi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Surat ini diadaptasi dari contoh yang diberikan Nadia Fithriani dan http://www.clubnutricia.co.id/download/Birth_Plan.pdf


——————————————————————————————————————-

Bandung, Mei 2011

Kepada Yth.

Petugas-petugas kesehatan

Di RS xxx, Bandung

Dengan hormat,

Berikut adalah rencana persalinan dan perawatan bayi baru lahir yang kami inginkan. Kami sadar bahwa proses kelahiran yang kami inginkan ini hanya dapat dilaksanakan apabila bayi dalam kondisi berikut:

  • bayi baru lahir cukup bulan atau hampir cukup bulan (>35 minggu),
  • berat lahir lebih dari 2000 gram
  • bayi didiagnosa Normal
    • langsung menangis saat lahir
    • seluruh tubuhnya tampak kemerahan, tidak pucat dan tidak biru
    • gerakannya aktif
    • refleks hisap menyusu kuat
  • tidak ada tanda-tanda patologi, sejak kelahiran sampai dipulangkan ke rumah.

 

RENCANA PERSALINAN

Nama Ibu : Istiana Ilma Sakina (Ilma)
Tanggal perkiraan kelahiran :
Nama dan nomor telepon suami : Krisna Satria Gunawan (Krisna)
022-xxxxxx
xxxxxxxxxxxxxx
Pendamping persalinan : HANYA SUAMI
Proses persalinan : Normal spontan, alami, aktif.
Tempat persalinan : RSIA xxxx, Jl. xxxx, Bandung
Posisi persalinan :  [berbaring/duduk/jongkok/dsj]
Penolong persalinan : dr. xxx, SpOG

  • Jika dokter ybs berhalangan, kami harap dapat ditangani oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan yang perempuan juga.
  • Kami berharap petugas kesehatan yang terlibat dalam proses persalinan kami secara langsung adalah perempuan, terkecuali jika dalam kondisi darurat.
Pereda rasa sakit dan obat : Kami harap obat-obat yang diresepkan, diutamakan merupakan obat generik bukan obat paten, terkecuali jika tidak memungkinkan menggunakan obat generik.
Memantau denyut jantung bayi :
Persalinan dengan bantuan : Kami harap penggunaan metode induksi, episiotomi, vakum dan lain-lain sebisa mungkin dihindari, terkecuali jika kondisinya darurat dan harus dengan persetujuan kami.
Selama persalinan : Kami akan sangat senang jika diizinkan untuk mendokumentasikan beberapa fase penting dalam proses persalinan baik menggunakan kamera digital maupun video yang terintegrasi dengan kamera digital. 
Setelah kelahiran : Langsung kontak kulit
IMD selama 1 jam penuh, termasuk jika terpaksa melalui SC, sesuai dengan rekomendasi WHO.
  • Setelah proses IMD selesai, bayi dapat dibawa ke kamar bayi.
  • Apabila proses IMD belum selesai, namun ruang bersalin sudah hendak dipakai, mohon bayi tetap dibiarkan di dada Ibu dan secara bersamaan bayi dan ibu dipindahkan ke kamar perawatan untuk melanjutkan proses IMD.
ASI Eksklusif
Kami harap bayi kami tidak diberikan kosmetik apapun seperti bedak, lotion, dll.
Situasi di luar rencana : Kami bersedia menjalani operasi SC hanya jika jelas indikasi medisnya.
Jika bayi perlu dirawat di unit perawatan bayi khusus, saya ingin tetap bisa memberinya ASI Eksklusif.
Jika bayi mengalami kelainan sehingga tidak dapat mencerna ASI, mohon berikan penjelasan dan alternatif2 penanganannya.

Kami sangat berharap petugas-petugas kesehatan (dokter, bidan, dan perawat) di tempat yang kami rencanakan untuk melahirkan bisa membantu dan bekerjasama dengan kami agar segala proses persalinan dan perawatan bayi di awal kelahirannya ini dapat berjalan dengan lancar,sesuai dengan harapan kita semua.

Demikian rencana persalinan kami, semoga berkenan di hati petugas sekalian dan kita dapat bekerjasama dengan baik. Atas perhatian dan bantuan yang diberikan, kami mengucapkan terima kasih.

Hormat kami,

Calon Ibu

Istiana Ilma Sakina

No. KTP. xxx

Calon Ayah

Krisna Satria Gunawan

No. KTP: xxx

Belajar Cara Mengejan yang Benar

Waktu melahirkan Nada tahun 2007 lalu, proses persalinannya termasuk cepat, hanya 30 menit. Tapi banyak pembuluh darah tepi di wajah, leher, dan dada yang pecah (terlihat bintik-bintik dan garis-garis merah yang bertebaran). Selain itu, tiba2 saja sudah terdengar tangisan bayi, padahal seharusnya mengejan berhenti saat sudah crowning alias kepala bayi sudah muncul. Kalau sampai bayi sudah keluar seluruhnya dan menangis tapi ibu masih mengejan, itu jelas: sepertinya cara mengejan saya saat itu masih salah dan para penolong saya waktu itu lupa memberitahu saya kapan harus berhenti mengejan. Padahal, ada banyak sekali proses stimulasi yang bisa bayi dapatkan dari proses persalinan yang tepat dan cukup waktu (tidak terlalu terpaksa keluar). Misalnya refleks perputaran kepala-badan-kaki bayi saat akan keluar, yang sebenarnya merupakan stimulasi untuk koordinasi tubuh. Juga saat seluruh wajah bayi tertekan saat melewati jalan lahir, itu sebenarnya merupakan stimulasi yang sangat baik untuk perkembangan oral bayi (untuk menyusu dan berbicara).

Karena itu ilma sekarang mulai browsing lagi supaya kali ini prosesnya lebih baik.. Berikut langkah-langkah mengejan jika persalinan dilakukan dengan “mendorong terpimpin”, misalnya karena ibu dibius lokal sehingga nyeri saat crowning tidak dapat dirasakan oleh ibu[1]:

1. Saat kontraksi dimulai, tarik napas 2 atau 3 kali dan saat Anda diminta mengejan, tarik napas dan tahan. Tekuk badan kedepan, tekuk dagu kearah dada dan dorong kebawah, dengan  mengencangkan otot-otot perut. (Bukan mengencangkan otot-otot dasar panggul! -red)

2. Relakskan otot-otot dasar panggul. Dorong ke bawah selama 5 sampai 7 detik (bukan sampai 30 detik! -red). Dengan cepat keluarkan napas, tarik napas kembali beberapa kali, dan ulangi rutinitas tersebut sampai kontraksi mereda.

3. Saat kontraksi berakhir, dengan perlahan baringkan tubuh atau duduk menyandar, beristirahat dan bernafas secara normal.

Catatan: Rutinitas ini berlanjut untuk setiap kontraksi sampai kepala bayi hampir keluar. Pada saat ini, dokter atau bidan akan mengatakan agar Anda berhenti mengejan sehingga bayi dapat keluar melalui lubang vagina dengan perlahan. Sesuai intruksi asistan pelahiran, relaks, dan keluarkan semua udara dari paru-paru. Jika perlu embuskan dengan cepat untuk mencegah agar Anda tidak mengejan [1].

Lalu mengenai perasaan mengantuk luar biasa menjelang proses persalinan (saat di ruang bersalin), ternyata itu terjadi karena rahim bekerja sangat keras sehingga ibu membutuhkan lebih banyak oksigen[1]. Anehnya, bukannya jadi bernapas lebih cepat, saat itu malah semakin lambat tanpa disadari. InsyaAllah bahasan tentang ini akan ditampilkan pada post berikutnya :)

Sumber:

  1. http://babyorchestra.wordpress.com dari bidanku.com